hari, jangan dulu gelap. dan suara-suara, jangan dulu diam. 


posted 3 weeks ago with
reblog
if only life had a re-start button, i wouldn’t mind.

posted 5 months ago with
reblog

gambar

      

adik saya gambar ini. foto saya waktu masih bayi, tahun 1991, berarti saya baru berumur 1 tahun. saya engga menyangka adik saya bisa gambar seperti ini. terimakasih ya de :D 


posted 5 months ago with
reblog

called childhood.

                 

       

                                          


posted 5 months ago with
reblog

tentang ibu, dihari ibu (kemarin)

Dimana-mana saya diingatkan kalau kemarin itu hari ibu. Teman-teman saya secara serempak mengganti foto di blackberry messengernya, kalau bukan foto dia dengan ibunya, ya foto ibunya saja. Berbagai status tentang betapa mereka sayang dan mencintai ibunya juga secara serentak dipasang disemua sosial media; twitter, facebook, tumblr, yahoo dan lain-lain. Lalu saya hanya diam lihat itu semua. Ibu saya bukan pengguna blackberry, kalaupun saya ganti foto dan statusnya, dia tidak akan sadar. Jadi saya hanya memperhatikan semuanya, senyum-senyum sendiri.

Kalian percaya zodiac?. Saya percaya, sedikit, kalau kebetulan sama dengan saya saja. Di sebuah sosial media disebutkan bahwa orang yang memiliki zodiac aquarius memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dan menunjukan emosi dan perasaannya kepada orang lain. Saya cenderung lebih suka ketika semua orang tidak tahu perasaan saya terhadap dia, entah mengapa. Saya susah diajak bicara, terkadang apa yang ada dipikiran saya dikomunikasikan dalam bentuk yang salah, entah struktur kalimatnya, entah intonasinya, dan itu kerap kali menyebabkan kesalahpahaman.

Ibu saya sudah tinggal bersama saya selama 21 tahun, sebentar lagi  genap 22 tahun. Dia mempelajari saya dengan baik dari waktu ke waktu. Dia adalah teman baik saya sewaktu kecil sekaligus pendengar yang setia. Dia tempat saya berlari ketika saya merasa tidak mempunyai teman. Jadi ingat, sewaktu kecil, sehabis mandi, saya diam dikamar kakak saya sendirian dan secara asal memainkan keyboard mungil miliknya. Nada-nada secara acak dimainkan, sampai tiba-tiba setiap nada berangsur berbentuk sebuah lagu; Ibu Kita Kartini. Saya suka sekali lagu itu waktu dulu, karena saya bangga, pada saat itu saya berpikir, seseorang membuatkan lagu khusus untuk ibu saya. Ah, tapi bukan namanya saja yang sama, untuk saya sampai sekarang, ibu saya sehebat RA Kartini. Ibu saya setengah berlari menghampiri saya. Dia bilang dia kaget saya bisa secara spontan memainkan lagu itu. Keesokan harinya ibu saya mengantar saya ketempat les piano.

Waktu itu saya masih kecil sekali dan dimana-mana saya selalu ada disebelah ibu saya. Setiap hari rabu pukul 14.00 pasti ibu saya sudah rapi dan wangi. Pukul 15.00 dia mengantar saya les piano, bersemangat sekali. Hal itu adalah rutinitas yang paling saya sukai. Suasananya masih terekam. Wangi parfum ibu saya, sinar matahari sore yang hangat yang terpantul ke pepohonan hijau, angin sepoi-sepoi, kami berjalan, setiap hari rabu.

Waktu terus berjalan, sampai akhirnya saya sudah bisa memainkan lagu-lagu dan ibu saya adalah satu-satunya orang yang mendorong saya untuk berani tampil diatas panggung. Terekam juga dipikiran saya, saya suka sekali menyanyikan lagu Ibunda, lagu yang saat itu dipopulerkan oleh Melly Goeslow. Setiap denting yang saya mainkan, dan suara yang saya keluarkan, saya selalu ingat ibu.

Satu lagi kebiasaan ibu yang masih terekam dalam pikiran saya. Dia suka sekali baca buku, dan kebiasaan itu membuat saya suka melakukan hal yang sama. Saya suka sekali baca buku cerita, dan setiap hari sangat ketergantungan dengan cerita. Sebelum tidur, ibu saya dengan sabar duduk disisi tempat tidur, membacakan cerita dongeng yang belum saya baca sebelumnya. Satu momen yang terekam jelas dan terulang dalam pikiran saya sekarang, saat itu mati lampu, saya habis menangis, karena kesal, entah kesal kenapa, saya lupa. Saya sembunyi dibalik selimut, dikamar saya sendirian. Kalau keluar, saya harus punya keberanian untuk meraba jalan ditengah kegelapan total. Akhirnya saya memutuskan untuk diam saja, sampai pagi hari. Tiba-tiba saya dengar pintu dibuka. Satu tangan mengibaskan selimut yang membungkus saya rapat-rapat, dan saya melihat wajah ibu saya waktu itu, terkena cahaya lilin yang ia bawa.  Dia membawa sebuah buku cerita warna biru. Dia bilang, dia mau membacakan ceritanya sampai saya tertidur. Saat itu saya sedang merasa sangat ketakutan. Gelap dan sendirian saya ada didalam kamar. Bentuk hantu yang saya tonton pada sebuah film, terbayang-bayang dan menjadi ancaman yang hebat dalam kesendirian saya saat itu. Tapi, cahaya lilin dan suara agak berat ibu saya yang sedang bercerita secara perlahan memberikan kehangatan. Beberapa menit setelahnya saya tertidur, merasa aman sekali.

Ibu saya adalah sosok perempuan yang mandiri, dia bisa segala hal. Mulai dari merajut, buat baju, masak makanan enak, sampai memasang paku yang seharusnya dikerjakan oleh laki-laki. Dia bisa semuanya. Itu menjadi contoh bagi saya sepanjang hidup. Saya tidak akan bisa memasang kawat jemuran sendirian, bermain dengan palu dan kawat, memanjat pompa air, dan berjalan diatas genteng  karena tidak mau kucing saya kabur kalau saya tidak belajar pada ibu. Ibu saya selalu mengingatkan, walaupun kita perempuan,  jangan pernah tergantung dengan siapapun. Selama hal itu bisa dikerjakan sendiri, kerjakanlah sendiri. Hal tersebut terkonsep dalam pikiran saya sampai sekarang.

Ah, jadi ingat lagi. Saat itu satu hari sebelum idul fitri. Ibu saya suka sekali menjahitkan baju lebaran untuk saya dan adik saya. Hasilnya selalu bagus. Pujian saya dapat dari sana sini setiap kali saya menggunakan baju yang dijahit ibu. Saya bangun dengan perut yang bergejolak. Momen ketika saya mendapatkan baju baru selalu menajadi momen yang paling saya tunggu-tunggu. Saya melihat sebuah rok panjang coklat dengan hiasan bunga dibawahnya menggantung dipintu kamar saya. Dengan cepat saya coba rok tersebut, senyuman lebar tersungging diwajah saya. Saya suka sekali rok tersebut. Keesokan harinya dihari idul fitri, saya berpikir pasti saya cantik sekali dengan rok tersebut.

Tetapi ketika saya keluar kamar, hati saya hancur lebur karena adik saya sedang mencoba baju yang sama, tetapi dengan keatasannya yang tidak kalah cantiknya. Saya menangis dan membanting pintu. Ibu saya langsung berlari dan menghampiri saya, bertanya kenapa saya tiba-tiba menangis dan marah. Ya, dari dulu saya susah berkomunikasi dan berbicara dengan baik. Saya tidak menjawab apa-apa, hanya menangis lebih keras. Saya lempar rok warna coklat itu. Entah bagaimana perasaan ibu saya waktu itu, yang pasti, saat ini, ketika saya mencoba mengulang kembali adegan tersebut, leher saya sakit, dan saya menangis. Ibu saya terus bertanya kenapa saya menangis dan marah kepadanya. Saya tidak menjelaskan, malah teriak dalam satu kalimat; “engga adil, ade dibuatin keatasannya, mama engga adil”. Ya, itu saja. Lalu saya lanjut menangis, keras sekali, sampai saya tertidur. Tengah malamnya saya terbangun. Suara takbir menggema, dan sayup-sayup dari kamar saya terdengar suara ayah dan ibu saya sedang berdiskusi sambil mengerjakan sesuatu. Saat itu sudah pukul 2 pagi. Saya lanjutkan tidur, berharap esok paginya perasaan saya sudah mulai membaik.

Akhirnya subuh tiba. Ketika saya membuka mata, sebuah keatasan lengan panjang berwarna putih keemasan dengan hiasan rajutan berbentuk bunga yang masih terlihat agak tidak rapi tergantung dipintu kamar saya, disebelah rok coklat yang sudah rapi kembali. Saya meraihnya dan mencobanya, keatasan itu agak sempit, namun masuk membungkus tubuh saya. saya melihat kecermin. Wajah dengan mata sembab dan bengkak akhirnya tersenyum, melihat pakaian cantik yang dia kenakan. Ternyata ibu saya tidak tidur, semalaman suntuk. Dia secara mendadak membuat keatasan untuk saya, dibantu oleh ayah saya. mereka mengerjakan semua itu sambil mendengar takbir, katanya menenangkan. Lagi-lagi bermasalah dengan komunikasi, mengucapkan terimakasih saja tidak. Mendengar cerita mereka berdua, saya malah berlari keluar, bertemu teman-teman saya. tetapi dalam solat saya saat itu, air mata saya mengalir deras, da saya hanya berdoa kepada Tuhan, agar ibu saya sebenarnya merasakan bahwa jauh didalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya adalah anak yang sangat bangga terhadapnya dan dalam sujud saya saat itu, saya berdoa agar Tuhan menyayanginya, melebihi saya. 

                              

Cerita-cerita itu diulang lagi sekarang, ketika saya sudah berusia 21 tahun, ketika waktu terasa cepat berjalan, dan walaupun tinggal pada satu atap, kami berdua mempunyai kesibukan masing-masing dan kami jarang bertemu. Saat ini ia atau saya pergi kemana-mana sendiri, tidak seperti dulu, ketika saya bersemangat sekali bangun pagi karena akan ikut dia pergi kerumah rekannya, ketika saya kecil. Ia menjalankan mobil pelan sekali, sehingga saya bisa menikmati pemandangan sawah yang akan panen berwarna emas tersiram cahaya matahari yang lebut pada pukul 9 pagi. Angin sepoi-sepoi, dan suara Tasya penyanyi cilik mengalun dari radio mobil. Hanya berdua, saya dan ibu. Sekarang tidak ada lagi.

Saya sekarang sering sekali tidak pulang, kalaupun pulang itu larut sekali. Pintu sudah terkunci, rumah sudah gelap, dan saya langsung masuk kamar, mengunci pintu dan tidur. Tidak ada lagi suara kaki berjalan menuju kamar, walaupun tau saya sudah tidur, ibu setiap hari menyempatkan diri masuk kekamar saya, hanya sekedar memastikan selimut sudah menutupi sekujur tubuh saya, mematikan lampu, dan mengecup kening saya.

Hari kemarin mengingatkan saya akan ibu. Apapun yang terjadi, saya tetap menjadi seorang anak perempuan yang bangga mempunyai ibu seperti ibu saya. Ibu saya adalah seseorang yang mengajarkan saya untuk menjadi perempuan yang kuat, apapun yang terjadi. Dia pantas mempunyai nama yang sama seperti pahlawan wanita. Ah, dia lebih hebat.


posted 5 months ago with 1 note
reblog

.

Rayhan & Tazkya - Falling Slowly (Glen Hansard Cover) by rayhan sudrajat II

since several years ago, been always wanting to play this piano and sing Marketa’s voice. here it is. I played it and sang it, with Rayhan Sudrajat. thank you. :)


posted 5 months ago with
reblog

we had a good night last night, and we did random clicks


posted 5 months ago with
reblog

Barney Stinson: Aquarius (?)

noelbackwardsisleon:

  • Capability to have sex without getting attached.
  • Difficulty with communicating feelings, even with friends.
  • Spontaneity and creativity.
  • Extreme loyalty to friends.
  • Willing to do go overboard to prove a point.
  • Smart.
  • Goes well-along with almost everyone.
  • Can both be childish and mature at the same time. 

that’s why I quoted almost every single thing Barney said !! Wait, is Barney an Aquarian?. 


The day when you know you are loved.


posted 5 months ago with 1 note
reblog


posted 5 months ago with
reblog

I don’t want to open the door, because when people knock, no one is really coming in. We just have a small conversation outside and then they walk away. I’d rather not open the door, so I must not even remember. Or at least, much easier to forget.  


my managers are great.

Me: Ya udah deh, gue belok kiri, ikut temen gue kayanya. Kalian duluan aja ya
Sheilla: Ciee pulang sama siapa nih ?
Me: Ada deh, rahasia..rahasia..
Sheilla: Cieee cieee..
Me: Ya udah nanti gue nyusul kalian deh kalau diledekin. Kabarin ya kalian mau makan dimana
Sheilla: Engga ah, jangan dikabarin. Udah sih bos biar lo seneng-seneng dikit. Lo seneng kan?. Biar engga mikirin kerjaan mulu. Udah sana, seneng-seneng dulu
Me: Ih ih kok kalian gitu..
Sheilla: Keliatan kok dari mukanya kalau lo seneng. Udah sana, engga akan dikabarin ah.
Me: ......................................

posted 8 months ago with
reblog
1 of 17 »
theme by heloísa teixeira